Saturday, July 27, 2013

How One Day I Promise to be A Good Mother





            Setiap ibu adalah yang terbaik bagi anak mereka. Namun ada kala nya seorang anak belajar apa yang mereka inginkan, dan apa yang tidak. Betapa ternyata seorang anak belajar apa itu artinya keterlambatan. Hal yang tidak bisa kamu ulang dalam fase hidup yang lain. Apapun bentuknya. Seseorang tumbuh dalam karakter-karakter kecil yang sedemikian rupa dan kemudian tersusun membentuknya tumbuh menjadi seseorang. Seseorang yang paling tidak, sangat ia kenal. Betul-betul ia kenal.


            Saya adalah salah satunya. Salah satu anak yang belajar apa yang ia inginkan dan tidak ia inginkan. Anak yang memahami apa itu sebuah keterlambatan, dan merasa ia bagai gelas yang tak pernah penuh dengan sesuatu yang diinginkan memenuhinya. Seseorang yang belajar betapa bukit kematangan sosial seseorang terbentuk sedikit demi sedikit dari bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya, terutama orang tuanya. 


Ibu adalah sosok yang seringkali dijadikan simbol kasih sayang dan inspirasi oleh hampir setiap orang. Saya, sampai saat ini selalu mengagumi bagaimana masyarakat dalam budaya Barat mampu dengan lebih mudah mengutarakan apa yang mereka rasakan pada anak-anak mereka, dan begitu pula sebaliknya. Hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan penilaian budaya dalam bentuk apapun. Pun yang saya kagumi dan tangkap adalah apa yang seringkali saya tonton di film-film mancanegara. Jadi fairly, katakanlah yang saya kagumi adalah pada apa yang saya lihat di film, which is touching buat saya. Saya selalu kagum dengan bagaimana asertifnya mereka (di film-film itu) meminta anak mereka untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, mengutarakan bagaimana cinta dan sayangnya mereka satu sama lain, bagaimana mereka tidak canggung meminta maaf satu sama lain, bagaimana seorang ayah/ibu dengan lembutnya membacakan dongeng atau bernyanyi dan mencium kening anak-anak mereka, even bagaimana mereka arguing dengan anak mereka. Karena katakanlah, saya tidak merasakan hal itu terjadi pada diri saya.


Saya dan orang tua saya, terutama ibu saya sangat susah atau bahkan hampir tidak pernah mengungkapkan secara langsung rasa sayang dan cinta masing-masing, meskipun untuk sebagian orang ungkapan secara langsung itu mampu tergantikan dengan tindakan nyata, tapi bagi saya itu perlu. Sebagian besar porsinya karena rasa malu. Anak-anak butuh tahu dan butuh mendengarkan langsung bagaimana orang tua mereka sangat menyayangi mereka dan begitupun dengan mereka. Saya dan keluarga saya juga sangat canggung mengutarakan perasaan dan meminta maaf satu sama lain, betapapun inginnya kami. Meski kami pun sama-sama telah saling memaafkan dalam hati, hanya saja seorang anak juga perlu mendengar bagaimana orang tua mereka mengajarkan mereka mengakui sebuah kesalahan dan meminta maaf. Sehingga kelak, lidahnya tidak akan kelu untuk mengucap maaf, dan ia tidak akan pernah terlambat untuk meminta maaf. Saya belajar banyak bahwa betapa kata-kata yang diucapkan oleh orang tua mampu menancap kuat bertahun-tahun pada seorang anak, dan saya akan berhati-hati mengucapkan apapun pada anak-anak saya.


Gambaran orang tua yang membacakan dongeng, bernyanyi kecil, dan mengucapkan selamat tidur sembari mencium kening adalah satu hal terindah dan terbaik yang menjadi gambaran bagi saya apa yang bisa saya lakukan nanti untuk anak-anak saya. Even saya tidak memiliki harta yang melimpah ruah untuk membelikan mereka berbagai mainan terkini atau yang setiap mereka inginkan, saya bisa memberikan rasa aman bagi mereka, mereka bisa merasakan perhatian dan kasih sayang saya sesungguhnya hingga mereka lelap, dan memberikan hal yang lebih dari harta apapun: imaginasi, mimpi, cita-cita..sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari uang dan tidak mampu saya beli dengan uang. Betapa pula saya ingin berdebat dengan anak-anak saya seperti saya berdiskusi dengan orang-orang yang saya sayangi, dengan cara-cara yang halus, tegas, dan hormat meski mereka adalah anak-anak saya. Mereka akan belajar bagaimana mereka akan tetap menaruh hormat pada saat mereka berdebat dengan seseorang, dan bagaimana mereka akan tetap bersikap lembut, tegas, dan sopan dikala mereka dalam amarah.


Betapa inginnya saya membentuk karakter itu dalam diri anak-anak saya. Begitu menyadarinya, Saya berjanji pada diri saya sendiri akan menjadi orang tua yang baik. Ibu yang baik. Memasak makanan yang mereka sukai, tidak melewatkan bekal sekolah mereka, menyapih mereka dalam hak dua tahun mereka, mengajarkan membaca dan mengaji, menanamkan kecintaan pada banyak hal, ada dalam setiap saat-saat penting bagi mereka, selalu memiliki waktu di antara kesibukan saya demi mengatakan saya mencintai mereka dan betapa berartinya mereka dalam hidup saya..bahkan jauh sebelum mereka lahir ke dunia.


          Masa lalu kita, betapa pun sulit dan terlambat untuk kita. Kita tidak akan pernah membuatnya terlambat untuk anak-anak kita. Hidup kita yang kita rasa kurang, bukan berarti tidak sempurna. Hanya saja jika kita merasa bisa membuatnya berjalan lebih baik, maka lakukan. Tuhan memberikan kita kekuatan untuk memperbaiki apa yang kurang dalam hidup kita, pada hidup anak-anak kita kelak. Dan sekali lagi berjanjilah bahwa saya, anda, kita semua akan menjadi seorang Ibu yang baik sekuat yang kita mampu.


                                                                                                           Love,
                                                                                                           Rani
                                                  *     *    *
 Developmental Psychology, bonding

No comments:

Post a Comment