Setiap ibu adalah yang terbaik bagi anak mereka. Namun ada
kala nya seorang anak belajar apa yang mereka inginkan, dan apa yang tidak. Betapa
ternyata seorang anak belajar apa itu artinya keterlambatan. Hal yang tidak
bisa kamu ulang dalam fase hidup yang lain. Apapun bentuknya. Seseorang tumbuh
dalam karakter-karakter kecil yang sedemikian rupa dan kemudian tersusun
membentuknya tumbuh menjadi seseorang. Seseorang yang paling tidak, sangat ia
kenal. Betul-betul ia kenal.
Saya adalah
salah satunya. Salah satu anak yang belajar apa yang ia inginkan dan tidak ia
inginkan. Anak yang memahami apa itu sebuah keterlambatan, dan merasa ia bagai
gelas yang tak pernah penuh dengan sesuatu yang diinginkan memenuhinya.
Seseorang yang belajar betapa bukit kematangan sosial seseorang terbentuk
sedikit demi sedikit dari bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya,
terutama orang tuanya.
Ibu adalah sosok yang seringkali
dijadikan simbol kasih sayang dan inspirasi oleh hampir setiap orang. Saya,
sampai saat ini selalu mengagumi bagaimana masyarakat dalam budaya Barat mampu
dengan lebih mudah mengutarakan apa yang mereka rasakan pada anak-anak mereka,
dan begitu pula sebaliknya. Hal ini sama sekali tidak berkaitan dengan
penilaian budaya dalam bentuk apapun. Pun yang saya kagumi dan tangkap adalah
apa yang seringkali saya tonton di film-film mancanegara. Jadi fairly,
katakanlah yang saya kagumi adalah pada apa yang saya lihat di film, which is
touching buat saya. Saya selalu kagum dengan bagaimana asertifnya mereka (di
film-film itu) meminta anak mereka untuk melakukan atau tidak melakukan
sesuatu, mengutarakan bagaimana cinta dan sayangnya mereka satu sama lain, bagaimana
mereka tidak canggung meminta maaf satu sama lain, bagaimana seorang ayah/ibu
dengan lembutnya membacakan dongeng atau bernyanyi dan mencium kening anak-anak
mereka, even bagaimana mereka arguing dengan anak mereka. Karena katakanlah,
saya tidak merasakan hal itu terjadi pada diri saya.
Saya dan orang tua saya, terutama ibu
saya sangat susah atau bahkan hampir tidak pernah mengungkapkan secara langsung
rasa sayang dan cinta masing-masing, meskipun untuk sebagian orang ungkapan
secara langsung itu mampu tergantikan dengan tindakan nyata, tapi bagi saya itu
perlu. Sebagian besar porsinya karena rasa malu. Anak-anak butuh tahu dan butuh
mendengarkan langsung bagaimana orang tua mereka sangat menyayangi mereka dan
begitupun dengan mereka. Saya dan keluarga saya juga sangat canggung
mengutarakan perasaan dan meminta maaf satu sama lain, betapapun inginnya kami.
Meski kami pun sama-sama telah saling memaafkan dalam hati, hanya saja seorang
anak juga perlu mendengar bagaimana orang tua mereka mengajarkan mereka
mengakui sebuah kesalahan dan meminta maaf. Sehingga kelak, lidahnya tidak akan
kelu untuk mengucap maaf, dan ia tidak akan pernah terlambat untuk meminta
maaf. Saya belajar banyak bahwa betapa kata-kata yang diucapkan oleh orang tua
mampu menancap kuat bertahun-tahun pada seorang anak, dan saya akan
berhati-hati mengucapkan apapun pada anak-anak saya.
Gambaran orang tua yang membacakan
dongeng, bernyanyi kecil, dan mengucapkan selamat tidur sembari mencium kening
adalah satu hal terindah dan terbaik yang menjadi gambaran bagi saya apa yang
bisa saya lakukan nanti untuk anak-anak saya. Even saya tidak memiliki harta
yang melimpah ruah untuk membelikan mereka berbagai mainan terkini atau yang
setiap mereka inginkan, saya bisa memberikan rasa aman bagi mereka, mereka bisa
merasakan perhatian dan kasih sayang saya sesungguhnya hingga mereka lelap, dan
memberikan hal yang lebih dari harta apapun: imaginasi, mimpi,
cita-cita..sesuatu yang tidak mereka dapatkan dari uang dan tidak mampu saya
beli dengan uang. Betapa pula saya ingin berdebat dengan anak-anak saya seperti
saya berdiskusi dengan orang-orang yang saya sayangi, dengan cara-cara yang
halus, tegas, dan hormat meski mereka adalah anak-anak saya. Mereka akan
belajar bagaimana mereka akan tetap menaruh hormat pada saat mereka berdebat
dengan seseorang, dan bagaimana mereka akan tetap bersikap lembut, tegas, dan
sopan dikala mereka dalam amarah.
Betapa inginnya saya membentuk
karakter itu dalam diri anak-anak saya. Begitu menyadarinya, Saya berjanji pada
diri saya sendiri akan menjadi orang tua yang baik. Ibu yang baik. Memasak
makanan yang mereka sukai, tidak melewatkan bekal sekolah mereka, menyapih
mereka dalam hak dua tahun mereka, mengajarkan membaca dan mengaji, menanamkan
kecintaan pada banyak hal, ada dalam setiap saat-saat penting bagi mereka, selalu
memiliki waktu di antara kesibukan saya demi mengatakan saya mencintai mereka
dan betapa berartinya mereka dalam hidup saya..bahkan jauh sebelum mereka lahir
ke dunia.
Masa lalu kita, betapa pun sulit dan terlambat untuk
kita. Kita tidak akan pernah membuatnya terlambat untuk anak-anak kita. Hidup
kita yang kita rasa kurang, bukan berarti tidak sempurna. Hanya saja jika kita
merasa bisa membuatnya berjalan lebih baik, maka lakukan. Tuhan memberikan kita
kekuatan untuk memperbaiki apa yang kurang dalam hidup kita, pada hidup
anak-anak kita kelak. Dan sekali lagi berjanjilah bahwa saya, anda, kita semua
akan menjadi seorang Ibu yang baik sekuat yang kita mampu.
Love,
Rani
* * *
Developmental Psychology, bonding